Lagi-lagi media kita diributkan dengan kasus bullying yang kali ini berlangsung di salah satu sekolah terkemuka di ibukota. Sebelumnya juga kita sudah pernah dihadapkan pada berita-berita bullying yang bahkan dilakukan di sekolah yang akan mencetak calon-calon pemimpin negara ini. Bullying bukan kita saksikan juga bukan lagi sekedar di sekolah-sekolah itu, melainkan di dalam kehidupan sosial sehari-hari. Kelompok mayoritas melakukan aksi bullying kepada kelompok minoritas yang tidak sepaham, bahkan mungkin para koruptor sedang asik membully para penegak hukum yang jujur di negara ini.
Melihat semua itu jujur saja aku jadi bertanya-tanya dimana sifat dan mental bangsa yang selama ini kita dengung dan agungkan? Segala mental dan sifat yang damai dan sejuk itu seolah-olah menghilang tak berbekas berganti dengan sikap yang panas dan kasar. Apakah bullying itu memang sifat sejati bangsa ini? Atau mungkin ada semacam virus tak terdeteksi yang diam-diam sudah menjangkiti semua seperti di film-film zombie itu?
Seringkali kita melihat pembahasan tentang kenapa sifat-sifat bullying itu bisa muncul karena sejatinya tidak ada apa pun yang mendadak muncul tanpa pemicu atau bibit yang tumbuh jika tidak dirawat dan dipupuk. Banyak para ahli yang mempercayai bahwa keluarga yang harusnya diperkuat untuk bisa membentengi anak-anak dari virus berbahaya itu.
Namun kita juga bisa melihat dengan mata kepala sendiri betapa sistem pendidikan dan pengasuhan anak-anak dewasa ini sudah sangat jauh berbeda. Seberapa banyak keluarga yang hanya mendidik anak-anaknya dengan materi? Para orang tua rata-rata berpendapat dengan hanya melengkapi kebutuhan materi maka mereka sudah melakukan yang terbaik. Betapa banyak orang tua yang seolah sudah tidak sempat lagi mendidik anak-anaknya tentang budi pekerti, dan beranggapan itu adalah tugas guru di sekolah. Mereka terkesan 'lepas tangan' dan sebagai ganti anak-anak itu akan mencari sendiri dari luar sehingga seringkali anak-anak itu terseret ke nilai-nilai yang tidak baik.
Betapa banyak orang tua yang karena keterbatasan waktu akhirnya memilih untuk membiarkan anak-anaknya melakukan yang mereka suka karena berpikir itu adalah salah satu cara mereka menebus kekosongan yang tercipta di antara mereka selama ini. Anak-anak tumbuh tidak terkendali dengan segala pandangan dan pendapatnya yang sangat mungkin melenceng. Anak-anak tumbuh menjadi raja di rumah orang tuanya dan sifat itu terbawa ke luar.
Betapa banyak orang tua yang karena merasa sudah tua maka memutuskan untuk berhenti belajar dan hidup. Mereka begitu jauh tertinggal informasi sehingga anak-anak akan semakin mudah mematahkan argumentasi mereka dengan alasan perbedaan zaman. Orang tua harusnya tetap bisa memantau dan terus mengupdate diri agar bisa membentengi anak-anak mereka dari kemungkinan membully atau dibully.
Sebenarnya sangat banyak penyebab muncul dan suburnya sifat bullying itu belakangan ini. Namun yang pasti adalah kepedulian orang tua atas perkembangan anak-anaknya yang sangat utama. Kenapa harus mencekoki anak-anak dengan segala materi dan kemudahan tanpa ada rambu-rambu hanya agar bisa terbebas dari tanggung jawab sebagai orang tua yang sebenarnya?
Jika memang demikian maka jangan heran jika suatu hari bangsa ini akan berubah menjadi bangsa zombie. Bangsa zombie yang kelihatan hidup namun sebenarnya sudah mati dan membusuk. Dan pastinya harus dimusnahkan.
Bukan karena cerewet, hanya prihatin dengan kondisi yang ada. Tapi sah-sah aja kalo ada yang menganggap sok tahu.
Tampilkan postingan dengan label sudut pandang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sudut pandang. Tampilkan semua postingan
Rabu, 01 Agustus 2012
Selasa, 31 Juli 2012
Kenapa cuma saat Ramadhan?
Ramadhan sudah sepertiga jalan dan suasananya semakin riuh dengan ramainya undangan-undangan Buka Bersama. Tidak jarang kita mendapat beberapa undangan berbuka dari kelompok teman yang berbeda-beda. Dan itu bukan hanya terpusat bagi yang menjalankan ibadah Puasa, yang tidak puasa juga acapkali ikut-ikutan heboh kalo udah urusan kumpul-kumpul saat buka bersama.
Aku juga sudah berbuka bersama dengan teman-teman kuliahku dulu dan jujur saja meski awalnya cuma untuk kumpul-kumpul toh tetap saja si pemilik ide (panitia) agak senewen. Senewen mencari tempat berbuka yang asik plus menu dan harga. Senewen soal pengaturan agar tidak ada yang terlambat apalagi lalulintas menjelas berbuka biasanya kurang bersabahabat. Yah semacam itulah. Aku sih senang-senang saja menghadiri acara-acara semacam itu, berkumpul dan bertukar kabar dengan teman-teman atau istilahnya bersilaturahmi.
Tapi yang jadi pertanyaan adalah 'Kenapa cuma saat Ramadhan?'
Sebenarnya bukan hanya bersilaturahmi dengan teman-teman, bahkan dengan segala atribut dan kegiatan yang mengetengahkan hal-hal berbau rohani. Yang biasanya hobi buka-bukaan maka selama Ramadhan mendadak mahir berbusana sopan. Yang biasanya selalu tersesat kalau mau ke rumah ibadah, mendadak jadi aktif. Orang-orang jadi giat 'belajar' kembali tentang isi kitabnya. Apakah kita hanya tergerak melakukan semua itu saat Ramadhan? Apakah rasanya kurang pas jika kita melakukannya sepanjang tahun? Apakah karena di bulan Ramadhan pahalanya lebih besar dan karenanya kita merasa 'sia-sia' jika melakukannya di hari-hari lain?
Apalagi mungkin demi acara 'silaturahmi mumpung Ramadhan' itu tidak jarang orang-orang jadi melupakan hakikat ibadah itu sendiri. Ada yang pengen 'silaturahmi' di tempat mentereng dan bergengsi, tak masalah harga selangit. Pokoknya yang penting wah. Padahal kalo emang tujuannya bersilaturahmi tidak masalah dimana. Tidak perlu juga makanan yang semewah gimana. Di rumah sendiri malah lebih bagus, sembari menikmati santapan yang wajar sekaligus bersilaturahmi dengan keluarga besar. Jadi kadang orang suka lupa konsep berpuasa yang menahan hawa nafsu (termasuk nafsu berpamer), dan malah terang-terangan mengumbar nafsu.
Entahlah. Tapi secara pribadi aku berharap semua itu tidak hanya saat Ramadhan. Kenapa tidak sepanjang tahun, setiap hari, sepanjang waktu? Bukankah dengan 'suasana Ramadhan' sepanjang tahun mudah-mudahan kehidupan juga lebih damai? Orang-orang akan tetap menjaga hawa nafsu, menjaga tali silaturahmi dan memiliki keluasan hati untuk selalu berbagi.
Ah, entah kapan...??
Aku juga sudah berbuka bersama dengan teman-teman kuliahku dulu dan jujur saja meski awalnya cuma untuk kumpul-kumpul toh tetap saja si pemilik ide (panitia) agak senewen. Senewen mencari tempat berbuka yang asik plus menu dan harga. Senewen soal pengaturan agar tidak ada yang terlambat apalagi lalulintas menjelas berbuka biasanya kurang bersabahabat. Yah semacam itulah. Aku sih senang-senang saja menghadiri acara-acara semacam itu, berkumpul dan bertukar kabar dengan teman-teman atau istilahnya bersilaturahmi.
Tapi yang jadi pertanyaan adalah 'Kenapa cuma saat Ramadhan?'
Sebenarnya bukan hanya bersilaturahmi dengan teman-teman, bahkan dengan segala atribut dan kegiatan yang mengetengahkan hal-hal berbau rohani. Yang biasanya hobi buka-bukaan maka selama Ramadhan mendadak mahir berbusana sopan. Yang biasanya selalu tersesat kalau mau ke rumah ibadah, mendadak jadi aktif. Orang-orang jadi giat 'belajar' kembali tentang isi kitabnya. Apakah kita hanya tergerak melakukan semua itu saat Ramadhan? Apakah rasanya kurang pas jika kita melakukannya sepanjang tahun? Apakah karena di bulan Ramadhan pahalanya lebih besar dan karenanya kita merasa 'sia-sia' jika melakukannya di hari-hari lain?
Apalagi mungkin demi acara 'silaturahmi mumpung Ramadhan' itu tidak jarang orang-orang jadi melupakan hakikat ibadah itu sendiri. Ada yang pengen 'silaturahmi' di tempat mentereng dan bergengsi, tak masalah harga selangit. Pokoknya yang penting wah. Padahal kalo emang tujuannya bersilaturahmi tidak masalah dimana. Tidak perlu juga makanan yang semewah gimana. Di rumah sendiri malah lebih bagus, sembari menikmati santapan yang wajar sekaligus bersilaturahmi dengan keluarga besar. Jadi kadang orang suka lupa konsep berpuasa yang menahan hawa nafsu (termasuk nafsu berpamer), dan malah terang-terangan mengumbar nafsu.
Entahlah. Tapi secara pribadi aku berharap semua itu tidak hanya saat Ramadhan. Kenapa tidak sepanjang tahun, setiap hari, sepanjang waktu? Bukankah dengan 'suasana Ramadhan' sepanjang tahun mudah-mudahan kehidupan juga lebih damai? Orang-orang akan tetap menjaga hawa nafsu, menjaga tali silaturahmi dan memiliki keluasan hati untuk selalu berbagi.
Ah, entah kapan...??
Jumat, 27 Juli 2012
Puasa atau 'Puasa'?
Hari ini seperti biasa aku pulang diantar angkot yang baik hati. Ya, baik hati karena meskipun penumpangnya belum terlalu penuh, namun pak sopir tetap membawa angkot dengan kecepatan yang wajar. Kecepatan yang tidak akan mengaduk-aduk isi perut dan kepala. Jika aku saja yang tidak menjalankan ibadah puasa bisa mual dan pusing, lah gimana lagi dengan penumpang lain yang mungkin sedang berpuasa?
Syukurlah hal itu tidak terjadi, terima kasih kepada sopir angkot yang baik hati.
Namun lepas dari penderitaan guncangan di angkot serampangan, maka muncul lagi derita lainnya. Kok bisa? Iya tuh, soalnya di sepanjang jalan sudah berderet dengan manis para penjaja makanan untuk berbuka. Beraneka ragam makanan kecil hingga yang berat berjejer rapi memamerkan hidangan warna warni beragam bentuk yang jujur saja membuat liurku menitik.
Waduh, aku yang tidak berpuasa ajah rasanya pengen menghambur turun menghampiri kue-kue yang rasanya pasti enak itu, gimana dengan yang puasa ya? Oke, itu tadi hanya di benakku saja yang emang suka keranjingan malah paling rajin mengingatkan staff yang berpuasa untuk berburu tajil (aku pastinya ikutan nitip hihi).
Namun kejadian itu lantas membuatku malu sendiri sekaligus semakin kagum dengan orang-orang yang sanggup menjalankan ibadah berpuasa tanpa terpengaruh dengan pajangan yang memancing liur itu. Mereka bisa dengan bersahaja beribadah bahkan di saat berbuka tidak lantas menuruti hawa nafsunya untuk menyantap makanan dengan berlebihan. Berapa banyak kita lihat orang-orang yang begitu bernafsu dan lupa diri kala waktu berbuka tiba? Mereka lebih memilih untuk menghabiskan waktu berbuka untuk bersantap sepuasnya dan melupakan sholat. Bagi mereka bersantap lebih penting ketimbang 'menghadap' kepadaNya sekedar untuk menyampaikan syukur karena telah diberi kekuatan untuk beribadah penuh hari itu.
Sering kita lihat di tayangan televisi suasana selama bulan Ramadhan di negara-negara lain, bahkan yang benar-benar negara muslim. Tidak ada keriuhan seperti yang kita saksinya di negara kita. Orang-orang membeli kebutuhan secukupnya dan sepantasnya. Pokoknya serba bertolak belakang dengan kondisi di negara kita yang orang-orangnya terlihat lebih heboh. Itu terlihat dari kenaikan harga selama puasa, hal yang seharusnya tidak terjadi dimana saat puasa seharusnya konsumsi menurun. Tapi kenyataannya tidak demikian. Hal itu terlihat dari kesibukan di pasar. Semua kebutuhan habis diborong. Semua ingin menyantap yang 'istimewa' selama bulan puasa. Orang-orang berbelanja habis-habisan lebih karena dorongan 'keinginan' bukan lagi 'kebutuhan'.
Bulan Ramadhan yang sejatinya adalah bulan di mana kita semua (muslim / non-muslim) melatih diri, kenapa yang ada malah umbar nafsu? Sedang menjalankan ibadah puasa atau 'puasa'?
Syukurlah hal itu tidak terjadi, terima kasih kepada sopir angkot yang baik hati.
Namun lepas dari penderitaan guncangan di angkot serampangan, maka muncul lagi derita lainnya. Kok bisa? Iya tuh, soalnya di sepanjang jalan sudah berderet dengan manis para penjaja makanan untuk berbuka. Beraneka ragam makanan kecil hingga yang berat berjejer rapi memamerkan hidangan warna warni beragam bentuk yang jujur saja membuat liurku menitik.
Waduh, aku yang tidak berpuasa ajah rasanya pengen menghambur turun menghampiri kue-kue yang rasanya pasti enak itu, gimana dengan yang puasa ya? Oke, itu tadi hanya di benakku saja yang emang suka keranjingan malah paling rajin mengingatkan staff yang berpuasa untuk berburu tajil (aku pastinya ikutan nitip hihi).
Namun kejadian itu lantas membuatku malu sendiri sekaligus semakin kagum dengan orang-orang yang sanggup menjalankan ibadah berpuasa tanpa terpengaruh dengan pajangan yang memancing liur itu. Mereka bisa dengan bersahaja beribadah bahkan di saat berbuka tidak lantas menuruti hawa nafsunya untuk menyantap makanan dengan berlebihan. Berapa banyak kita lihat orang-orang yang begitu bernafsu dan lupa diri kala waktu berbuka tiba? Mereka lebih memilih untuk menghabiskan waktu berbuka untuk bersantap sepuasnya dan melupakan sholat. Bagi mereka bersantap lebih penting ketimbang 'menghadap' kepadaNya sekedar untuk menyampaikan syukur karena telah diberi kekuatan untuk beribadah penuh hari itu.
Sering kita lihat di tayangan televisi suasana selama bulan Ramadhan di negara-negara lain, bahkan yang benar-benar negara muslim. Tidak ada keriuhan seperti yang kita saksinya di negara kita. Orang-orang membeli kebutuhan secukupnya dan sepantasnya. Pokoknya serba bertolak belakang dengan kondisi di negara kita yang orang-orangnya terlihat lebih heboh. Itu terlihat dari kenaikan harga selama puasa, hal yang seharusnya tidak terjadi dimana saat puasa seharusnya konsumsi menurun. Tapi kenyataannya tidak demikian. Hal itu terlihat dari kesibukan di pasar. Semua kebutuhan habis diborong. Semua ingin menyantap yang 'istimewa' selama bulan puasa. Orang-orang berbelanja habis-habisan lebih karena dorongan 'keinginan' bukan lagi 'kebutuhan'.
Bulan Ramadhan yang sejatinya adalah bulan di mana kita semua (muslim / non-muslim) melatih diri, kenapa yang ada malah umbar nafsu? Sedang menjalankan ibadah puasa atau 'puasa'?
Kamis, 26 Juli 2012
Ongkos
Hari itu cuaca cerah. Angkot yang kunaiki berjalan tenang tanpa hambatan dan aku tiba tepat waktu di perhentian untuk menunggu angkot yang membawakan ke kantor. Setelah turun, membayar ongkos dan menyeberang betapa beruntungnya karena angkot yang kutunggu itu bertepatan lewat. Maka dengan penuh semangat aku menyetopnya lalu naik lega karena hari ini bisa tiba lebih awal tanpa terjebak macet.
Namun ketika sampai di persimpangan di mana angkot yang kunaiki seharusnya berbelok ke kiri, ternyata dia tetap berjalan lurus. Aku pun lantas melihat nomor trayek yang tertera di angkot dan langsung menepok jidat dalam hati. Ternyata aku salah jurusan nih. Maka aku pun buru-buru meminta angkot menepi, membayar ongkos, dan berjalan cukup jauh untuk menunggu angkot yang benar.
Aku yakin kita semua pasti setidaknya pernah mengalami hal itu sekali di sepanjang hidup ini. Bahkan untuk yang sudah sehari-hari melalui jalur yang sama dengan angkot yang sama juga bisa salah. Banyak faktor yang menyebabkannya dan kurang teliti adalah salah satunya. Kita tak bisa menyalahkan angkot-angkot yang berseliweran dengan warna mirip, namun yang harus dilakukan adalah pertajam pandangan kita agar tidak salah.
Salah jurusan bukan hanya melulu saat memilih angkot, namun juga di dalam menjalani kehidupan ini. Berapa banyak dari kita yang merasa terperangkap dengan kehidupan yang tidak kita kehendaki. Ada yang mendapatkan pekerjaan yang tidak sesuai dengan panggilan jiwa, dan lain-lain. Dan parahnya semua itu tidak gratis. Sama seperti aku yang tetap harus membayar ongkos meski salah jurusan, maka demikian juga kita di dalam kehidupan. Namun yang membedakan besarnya ongkos yang harus kita keluarkan adalah sejauh apa kita salah jurusan? Jika kita segera menyadarinya, maka ongkos yang harus kita keluarkan tentunya tidak sama dengan yang telat menyadarinya, kan?
Tapi itu kan kalau salah jurusan angkot, beda dong dengan salah jurusan kehidupan? Jawabannya adalah tetap sama. Ongkos yang kita keluarkan tetap berbeda besarnya tergantung seberapa cepat kita menyadari kekeliruan itu.
Ketika kita merasa 'salah jurusan' saat mendapatkan pekerjaan, maka sebenarnya ada dua pilihan. Segera menyadarinya atau pasrah mengikuti arus tanpa usaha lain. Kebanyakan dari kita akan berpikir jika sudah sadar salah jurusan maka harus berhenti dan berganti jurusan yang benar, namun itu tidak selalu menjadi solusi. Jurusan yang benar bukan melulu berwujud pekerjaan lain yang sesuai dengan kita, melainkan adalah cara pandang kita tentang pekerjaan itu.
Ketika sadar bahwa kita tidak sedang melakukan pekerjaan yang kita sukai, maka ongkos yang paling murah sebenarnya adalah segera belajar untuk menyukai pekerjaan itu. Ketimbang kita hanya menggerutu dan mengeluh tentang pekerjaan yang berakhir derita, maka membalikkan sikap untuk bisa menyukai pekerjaan itu akan memperingan ongkos kita. Syukur-syukur jika setelahnya kita bisa benar-benar menyukai pekerjaan itu. Jikalau pun memang kita tetap belum bisa menyukainya sepenuh hati, maka jiwa kita akan lebih tentram karena telah melakukan tanggung jawab sebaik-baiknya dan bukan tidak mungkin setelah ini kita bisa benar-benar melakukan hal yang kita sukai. Pintu selalu terbuka bagi orang yang punya pandangan jernih. Menghabiskan waktu mengeluh tidak akan mengantar kita kemana-mana selain memperberat ongkos kita. Dari segi material kita tidak akan berhasil mencapai apa pun karena kinerja yang jeblok. Dari segi spiritual maka kita tidak akan dikenal selain sebagai manusia pengeluh yang menyedihkan.
Sebenarnya ada begitu banyak hal di dalam hidup dan kita sendiri yang menentukan mau memandang sisi gelap atau terangnya. Tidak ada salahnya sesekali memandang sisi gelap sekedar untuk mengingatkan kita bahwa segala hal tetap menyimpan kejelekan, namun sangatlah tidak bijaksana jika kita memilih berdiam di sisi yang gelap itu. Semakin lama kita mendiaminya, maka ongkos yang kita keluarkan akan menjadi terlalu besar untuk bisa kita lunasi dengan waktu yang terus berkurang.
Namun ketika sampai di persimpangan di mana angkot yang kunaiki seharusnya berbelok ke kiri, ternyata dia tetap berjalan lurus. Aku pun lantas melihat nomor trayek yang tertera di angkot dan langsung menepok jidat dalam hati. Ternyata aku salah jurusan nih. Maka aku pun buru-buru meminta angkot menepi, membayar ongkos, dan berjalan cukup jauh untuk menunggu angkot yang benar.
Aku yakin kita semua pasti setidaknya pernah mengalami hal itu sekali di sepanjang hidup ini. Bahkan untuk yang sudah sehari-hari melalui jalur yang sama dengan angkot yang sama juga bisa salah. Banyak faktor yang menyebabkannya dan kurang teliti adalah salah satunya. Kita tak bisa menyalahkan angkot-angkot yang berseliweran dengan warna mirip, namun yang harus dilakukan adalah pertajam pandangan kita agar tidak salah.
Salah jurusan bukan hanya melulu saat memilih angkot, namun juga di dalam menjalani kehidupan ini. Berapa banyak dari kita yang merasa terperangkap dengan kehidupan yang tidak kita kehendaki. Ada yang mendapatkan pekerjaan yang tidak sesuai dengan panggilan jiwa, dan lain-lain. Dan parahnya semua itu tidak gratis. Sama seperti aku yang tetap harus membayar ongkos meski salah jurusan, maka demikian juga kita di dalam kehidupan. Namun yang membedakan besarnya ongkos yang harus kita keluarkan adalah sejauh apa kita salah jurusan? Jika kita segera menyadarinya, maka ongkos yang harus kita keluarkan tentunya tidak sama dengan yang telat menyadarinya, kan?
Tapi itu kan kalau salah jurusan angkot, beda dong dengan salah jurusan kehidupan? Jawabannya adalah tetap sama. Ongkos yang kita keluarkan tetap berbeda besarnya tergantung seberapa cepat kita menyadari kekeliruan itu.
Ketika kita merasa 'salah jurusan' saat mendapatkan pekerjaan, maka sebenarnya ada dua pilihan. Segera menyadarinya atau pasrah mengikuti arus tanpa usaha lain. Kebanyakan dari kita akan berpikir jika sudah sadar salah jurusan maka harus berhenti dan berganti jurusan yang benar, namun itu tidak selalu menjadi solusi. Jurusan yang benar bukan melulu berwujud pekerjaan lain yang sesuai dengan kita, melainkan adalah cara pandang kita tentang pekerjaan itu.
Ketika sadar bahwa kita tidak sedang melakukan pekerjaan yang kita sukai, maka ongkos yang paling murah sebenarnya adalah segera belajar untuk menyukai pekerjaan itu. Ketimbang kita hanya menggerutu dan mengeluh tentang pekerjaan yang berakhir derita, maka membalikkan sikap untuk bisa menyukai pekerjaan itu akan memperingan ongkos kita. Syukur-syukur jika setelahnya kita bisa benar-benar menyukai pekerjaan itu. Jikalau pun memang kita tetap belum bisa menyukainya sepenuh hati, maka jiwa kita akan lebih tentram karena telah melakukan tanggung jawab sebaik-baiknya dan bukan tidak mungkin setelah ini kita bisa benar-benar melakukan hal yang kita sukai. Pintu selalu terbuka bagi orang yang punya pandangan jernih. Menghabiskan waktu mengeluh tidak akan mengantar kita kemana-mana selain memperberat ongkos kita. Dari segi material kita tidak akan berhasil mencapai apa pun karena kinerja yang jeblok. Dari segi spiritual maka kita tidak akan dikenal selain sebagai manusia pengeluh yang menyedihkan.
Sebenarnya ada begitu banyak hal di dalam hidup dan kita sendiri yang menentukan mau memandang sisi gelap atau terangnya. Tidak ada salahnya sesekali memandang sisi gelap sekedar untuk mengingatkan kita bahwa segala hal tetap menyimpan kejelekan, namun sangatlah tidak bijaksana jika kita memilih berdiam di sisi yang gelap itu. Semakin lama kita mendiaminya, maka ongkos yang kita keluarkan akan menjadi terlalu besar untuk bisa kita lunasi dengan waktu yang terus berkurang.
Langganan:
Postingan (Atom)