Ramadhan sudah sepertiga jalan dan suasananya semakin riuh dengan ramainya undangan-undangan Buka Bersama. Tidak jarang kita mendapat beberapa undangan berbuka dari kelompok teman yang berbeda-beda. Dan itu bukan hanya terpusat bagi yang menjalankan ibadah Puasa, yang tidak puasa juga acapkali ikut-ikutan heboh kalo udah urusan kumpul-kumpul saat buka bersama.
Aku juga sudah berbuka bersama dengan teman-teman kuliahku dulu dan jujur saja meski awalnya cuma untuk kumpul-kumpul toh tetap saja si pemilik ide (panitia) agak senewen. Senewen mencari tempat berbuka yang asik plus menu dan harga. Senewen soal pengaturan agar tidak ada yang terlambat apalagi lalulintas menjelas berbuka biasanya kurang bersabahabat. Yah semacam itulah. Aku sih senang-senang saja menghadiri acara-acara semacam itu, berkumpul dan bertukar kabar dengan teman-teman atau istilahnya bersilaturahmi.
Tapi yang jadi pertanyaan adalah 'Kenapa cuma saat Ramadhan?'
Sebenarnya bukan hanya bersilaturahmi dengan teman-teman, bahkan dengan segala atribut dan kegiatan yang mengetengahkan hal-hal berbau rohani. Yang biasanya hobi buka-bukaan maka selama Ramadhan mendadak mahir berbusana sopan. Yang biasanya selalu tersesat kalau mau ke rumah ibadah, mendadak jadi aktif. Orang-orang jadi giat 'belajar' kembali tentang isi kitabnya. Apakah kita hanya tergerak melakukan semua itu saat Ramadhan? Apakah rasanya kurang pas jika kita melakukannya sepanjang tahun? Apakah karena di bulan Ramadhan pahalanya lebih besar dan karenanya kita merasa 'sia-sia' jika melakukannya di hari-hari lain?
Apalagi mungkin demi acara 'silaturahmi mumpung Ramadhan' itu tidak jarang orang-orang jadi melupakan hakikat ibadah itu sendiri. Ada yang pengen 'silaturahmi' di tempat mentereng dan bergengsi, tak masalah harga selangit. Pokoknya yang penting wah. Padahal kalo emang tujuannya bersilaturahmi tidak masalah dimana. Tidak perlu juga makanan yang semewah gimana. Di rumah sendiri malah lebih bagus, sembari menikmati santapan yang wajar sekaligus bersilaturahmi dengan keluarga besar. Jadi kadang orang suka lupa konsep berpuasa yang menahan hawa nafsu (termasuk nafsu berpamer), dan malah terang-terangan mengumbar nafsu.
Entahlah. Tapi secara pribadi aku berharap semua itu tidak hanya saat Ramadhan. Kenapa tidak sepanjang tahun, setiap hari, sepanjang waktu? Bukankah dengan 'suasana Ramadhan' sepanjang tahun mudah-mudahan kehidupan juga lebih damai? Orang-orang akan tetap menjaga hawa nafsu, menjaga tali silaturahmi dan memiliki keluasan hati untuk selalu berbagi.
Ah, entah kapan...??
Bukan karena cerewet, hanya prihatin dengan kondisi yang ada. Tapi sah-sah aja kalo ada yang menganggap sok tahu.
Tampilkan postingan dengan label spiritual. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label spiritual. Tampilkan semua postingan
Selasa, 31 Juli 2012
Jumat, 27 Juli 2012
Puasa atau 'Puasa'?
Hari ini seperti biasa aku pulang diantar angkot yang baik hati. Ya, baik hati karena meskipun penumpangnya belum terlalu penuh, namun pak sopir tetap membawa angkot dengan kecepatan yang wajar. Kecepatan yang tidak akan mengaduk-aduk isi perut dan kepala. Jika aku saja yang tidak menjalankan ibadah puasa bisa mual dan pusing, lah gimana lagi dengan penumpang lain yang mungkin sedang berpuasa?
Syukurlah hal itu tidak terjadi, terima kasih kepada sopir angkot yang baik hati.
Namun lepas dari penderitaan guncangan di angkot serampangan, maka muncul lagi derita lainnya. Kok bisa? Iya tuh, soalnya di sepanjang jalan sudah berderet dengan manis para penjaja makanan untuk berbuka. Beraneka ragam makanan kecil hingga yang berat berjejer rapi memamerkan hidangan warna warni beragam bentuk yang jujur saja membuat liurku menitik.
Waduh, aku yang tidak berpuasa ajah rasanya pengen menghambur turun menghampiri kue-kue yang rasanya pasti enak itu, gimana dengan yang puasa ya? Oke, itu tadi hanya di benakku saja yang emang suka keranjingan malah paling rajin mengingatkan staff yang berpuasa untuk berburu tajil (aku pastinya ikutan nitip hihi).
Namun kejadian itu lantas membuatku malu sendiri sekaligus semakin kagum dengan orang-orang yang sanggup menjalankan ibadah berpuasa tanpa terpengaruh dengan pajangan yang memancing liur itu. Mereka bisa dengan bersahaja beribadah bahkan di saat berbuka tidak lantas menuruti hawa nafsunya untuk menyantap makanan dengan berlebihan. Berapa banyak kita lihat orang-orang yang begitu bernafsu dan lupa diri kala waktu berbuka tiba? Mereka lebih memilih untuk menghabiskan waktu berbuka untuk bersantap sepuasnya dan melupakan sholat. Bagi mereka bersantap lebih penting ketimbang 'menghadap' kepadaNya sekedar untuk menyampaikan syukur karena telah diberi kekuatan untuk beribadah penuh hari itu.
Sering kita lihat di tayangan televisi suasana selama bulan Ramadhan di negara-negara lain, bahkan yang benar-benar negara muslim. Tidak ada keriuhan seperti yang kita saksinya di negara kita. Orang-orang membeli kebutuhan secukupnya dan sepantasnya. Pokoknya serba bertolak belakang dengan kondisi di negara kita yang orang-orangnya terlihat lebih heboh. Itu terlihat dari kenaikan harga selama puasa, hal yang seharusnya tidak terjadi dimana saat puasa seharusnya konsumsi menurun. Tapi kenyataannya tidak demikian. Hal itu terlihat dari kesibukan di pasar. Semua kebutuhan habis diborong. Semua ingin menyantap yang 'istimewa' selama bulan puasa. Orang-orang berbelanja habis-habisan lebih karena dorongan 'keinginan' bukan lagi 'kebutuhan'.
Bulan Ramadhan yang sejatinya adalah bulan di mana kita semua (muslim / non-muslim) melatih diri, kenapa yang ada malah umbar nafsu? Sedang menjalankan ibadah puasa atau 'puasa'?
Syukurlah hal itu tidak terjadi, terima kasih kepada sopir angkot yang baik hati.
Namun lepas dari penderitaan guncangan di angkot serampangan, maka muncul lagi derita lainnya. Kok bisa? Iya tuh, soalnya di sepanjang jalan sudah berderet dengan manis para penjaja makanan untuk berbuka. Beraneka ragam makanan kecil hingga yang berat berjejer rapi memamerkan hidangan warna warni beragam bentuk yang jujur saja membuat liurku menitik.
Waduh, aku yang tidak berpuasa ajah rasanya pengen menghambur turun menghampiri kue-kue yang rasanya pasti enak itu, gimana dengan yang puasa ya? Oke, itu tadi hanya di benakku saja yang emang suka keranjingan malah paling rajin mengingatkan staff yang berpuasa untuk berburu tajil (aku pastinya ikutan nitip hihi).
Namun kejadian itu lantas membuatku malu sendiri sekaligus semakin kagum dengan orang-orang yang sanggup menjalankan ibadah berpuasa tanpa terpengaruh dengan pajangan yang memancing liur itu. Mereka bisa dengan bersahaja beribadah bahkan di saat berbuka tidak lantas menuruti hawa nafsunya untuk menyantap makanan dengan berlebihan. Berapa banyak kita lihat orang-orang yang begitu bernafsu dan lupa diri kala waktu berbuka tiba? Mereka lebih memilih untuk menghabiskan waktu berbuka untuk bersantap sepuasnya dan melupakan sholat. Bagi mereka bersantap lebih penting ketimbang 'menghadap' kepadaNya sekedar untuk menyampaikan syukur karena telah diberi kekuatan untuk beribadah penuh hari itu.
Sering kita lihat di tayangan televisi suasana selama bulan Ramadhan di negara-negara lain, bahkan yang benar-benar negara muslim. Tidak ada keriuhan seperti yang kita saksinya di negara kita. Orang-orang membeli kebutuhan secukupnya dan sepantasnya. Pokoknya serba bertolak belakang dengan kondisi di negara kita yang orang-orangnya terlihat lebih heboh. Itu terlihat dari kenaikan harga selama puasa, hal yang seharusnya tidak terjadi dimana saat puasa seharusnya konsumsi menurun. Tapi kenyataannya tidak demikian. Hal itu terlihat dari kesibukan di pasar. Semua kebutuhan habis diborong. Semua ingin menyantap yang 'istimewa' selama bulan puasa. Orang-orang berbelanja habis-habisan lebih karena dorongan 'keinginan' bukan lagi 'kebutuhan'.
Bulan Ramadhan yang sejatinya adalah bulan di mana kita semua (muslim / non-muslim) melatih diri, kenapa yang ada malah umbar nafsu? Sedang menjalankan ibadah puasa atau 'puasa'?
Langganan:
Postingan (Atom)