Senin, 13 Agustus 2012

Mereka yang pernah hadir : Lima Sekawan bag.1


Aku tidak ingat pastinya kapan, tapi seekor kucing berwarna kuning cemerlang dengan liris dan bola cokelat  muncul di rumah kami. Nyokap sangat menyayangi kucing yang bossy itu dan langsung menamainya Tauco. Tauco kalo digambarkan serupa perempuan cantik yang nge-boss. Dia yang mengatur kapan pengen disentuh atau tidak. Dan karena Nyokap sangat sayang kepadanya sudah barang tentu kami jarang dapat kesempatan bermain dengannya.

Hingga suatu sore ketika kami sedang bermain di halaman, mendadak kami melihat anak-anak tetangga sedang mem-bully seekor kucing berwarna kuning seperti Tauco. Kami pun langsung bertindak untuk menyelamatkannya sembari berkata, ”Itu kucing kami!”. Anak-anak pembully itu pun melepaskan kucing malang itu dan langsung kami bawa pulang. Nah ketika tiba di dalam ternyata si Tauco sedang asik pulas di pangkuan nyokap. Jika itu Tauco, lantas kucing yang kami bawa ini siapa? Apalagi setelah diteliti ternyata leher kucing malang ini terluka seperti digigit. Kami tidak tega membuangnya, dan karena itu kami pun memeliharanya dan menamainya Niki. Luka di leher Niki kami rawat hingga sembuh. Niki adalah kucing jantan yang tidak banyak tingkah plus tak berdaya ketika dibully. Apalagi oleh Tauco yang nge-boss. Tapi setidaknya sekarang kami punya kucing untuk bermain.

Setelahnya kucing-kucing lain bermunculan. Kucing ketiga yang muncul adalah Piko dengan warna abu-abu plus liris hitam di tubuhnya. Piko juga muncul entah dari mana dan sifatnya mirip dengan Tauco meskipun dia jantan. Sehingga bisa dibayangkan bagaimana mereka saat sedang makan. Bisa brantem.

Tidak lama setelah Piko muncul kucing betina lain yang karena motif bulunya dinamai Nyokap si Bola. Setelah kehadirannya, porsi si Tauco pun berkurang karena sekarang Nyokap lebih senang bermain dengan si Bola. Hal ini membuat si Tauco mulai menurunkan gengsinya dan mau ’bergaul’ dengan kami.

Dan setelah Bola, muncul lagi seekor kucing. Kali ini kucing itu sangat berbeda dari kucing-kucing sebelumnya yang berekor pendek. Kucing ini berwarna abu-abu dan ekornya lurus panjang. Kami pun menamainya si Bopi.

Nah, sudah ada lima ekor kucing dan kami bisa sama-sama menikmati saat-saat bahagia bermain dengan mereka. Tauco, Niki, Piko, Bola, dan Bopi. Kucing-kucing lucu yang saat jam makan tiba semuanya tetap kami panggil dengan satu panggilan : Manis.

Hahaha... Mungkin kami memang gak pernah bisa move-on dari kenangan ’Manis’?

Jumat, 10 Agustus 2012

Mereka yang pernah hadir : Kenangan Manis


Ortu kami punya langganan bidan yang sering juga bertugas ganda sebagai dokter anak. Dia bidan yang sangat baik dan sabar, kami bahkan sering dikasih vitamin gratis. Nah bu bidan ini juga memelihara buanyak sekali kucing. Ada beberapa yang disterilkan agar komunitasnya tidak meledak.

Nah suatu hari saat nyokap membawa adik berobat, maka mereka ngobrol ngalor ngidul dan entah bagaimana akhirnya ketika pulang mereka membawa seekor kucing. Kucing betina itu sudah disteril dan lucu sekali. Dan lagi-lagi kami namai dia si Manis.

Tapi berbeda dengan generasi yang sebelumnya, si Manis yang ini beneran manis. Dia suka sekali bermanja-manja dan kami pun akhirnya menikmati waktu berkualitas (halah) bermain dengan kucing. Si Manis suka menguntit kami kemana pun dan tidak lupa membelai-belaikan tubuhnya ke kaki kami ketika kami sedang makan. Pokoknya si Manis menjadi idola di rumah deh.

Si Manis juga suka mengendap-endap ke tempat tidur untuk tidur bersama-sama kami. Rasanya lucu ketika bisa merasakan bulunya yang lembut dan hangat, apalagi kalo dia sudah tidur di dekat telinga. Dengkurannya yang halus bikin kami gemes. Ortu selalu melarang kami membawa si Manis bobo bareng, tapi entah bagaimana si Manis tetap saja nekad. Yah, mungkin dia berjiwa sosialita hehe... Si Manis kucing gaul (halah).

Hingga suatu pagi ketika kami bangun seperti biasa, tidak lagi terdengar dengkuran si Manis. Bulunya yang lembut juga tidak hangat. Akhirnya kami sadar si Manis sudah mati. Mungkin tanpa sadar tergencet oleh adik kami.

Kami sangat sedih kehilangan si Manis yang sudah menemani kami dengan manisnya selama beberapa bulan itu. Meskipun kebersamaan kami singkat, tapi kenangan si Manis tetap tertinggal hingga sekarang.

Pelajaran :
Bahaya selalu mengintai, bahkan dalam bentuk yang paling tidak berbahaya. Waspadalah... Waspadalah...

Kamis, 09 Agustus 2012

Mereka yang pernah hadir : Manis Pahit


Setelah Duo Manis minggat, cukup lama kami tidak memelihara kucing. Istilahnya saat itu kami berpikir, kalo ada syukur kalo tidak yah tidak apa-apa. Status kami saat itu adalah ’jomblo’ di dunia memelihara kucing.

Sampai suatu hari muncul seekor kucing entah dari mana. Warnanya kuning pucat, dan karena kebetulan dia betina kami pun langsung memanggilnya si Manis. Ok, memang perbendaharaan kami tentang nama-nama kucing payah, tapi ya hanya itu nama yang terpikir. Si Manis edisi terbaru ini juga sudah dewasa, bahkan dia lagi hamil. Mungkin dia nongol di rumah kami saat sedang sibuk mencari tempat beranak.

Jadilah si Manis tinggal bersama kami hingga akhirnya dia melahirkan. Dia melahirkan tiga ekor anak yang jujur saja membuatku bergidik. Yah anak-anak kucing itu masih begitu kecil dan botak. Belum berbulu. Mirip tikus. Dan anehnya sodara-sodara... si Manis sebagai induk enggan mengasuh mereka. Tidak juga mau menyusui. Hanya sibuk ingin bermain bersama kami. Mungkin dia sedang mengalami sindrom Baby Blues atau emang blom puas ajah bermain-main karena keburu hamil, entahlah. Nyokap yang harus turun tangan mengurus bayi-bayi itu dengan memberi air tajin sebagai pengganti susu, sementara si Manis yang meskipun sudah kami paksa (sengaja menidurkannya di samping bayi-bayinya) tetap enggan. Hingga akhirnya bayi-bayi itu pun mati.

Setelah bayinya mati, si Manis menghilang. Minggat entah ke mana. Hingga suatu hari dia muncul, lagi-lagi dengan perut gendut ingin melahirkan. Mungkin dia berpikir rumah kami itu adalah tempat bersalin yang sangat pas, ya hehe... Nah kali ini dia melahirkan di luar rumah, di sebuah bak kosong. Dan lagi-lagi dia terkena sindrom Baby Blues hingga kami bahkan pernah sampai menutup bak itu dengan papan agar dia tidak kabur meninggalkan anak-anaknya, tapi ya tetap saja dia enggan merawat mereka. Hingga akhirnya kembali lagi bayi-bayi itu mati.

Kami tentu saja sangat sedih dan kesal kepada si Manis yang kayaknya gak bertanggung jawab. Entah kenapa dia ogah mengurusi anak-anaknya. Tapi setelah kematian anak-anaknya yang terakhir si Manis seperti stress gituh. Dia sering mengeong tanpa alasan dan kayak mencari-cari. Nyokap bilang sih dia mungkin kecarian dan terbayang anak-anaknya. Atau mungkin menyesal. Entahlah.

Si Manis terus saja bertingkah aneh hingga suatu malam saat kami sekeluarga sedang duduk santai di luar rumah, dia terlihat di seberang jalan. Rumah kami memang terletak tepat di tepi jalan lintas Sumatera yang ramai. Lalu tanpa aba-aba dia pun berlari menyeberang dan tertabrak mobil. Kami yang melihat langsung kejadian itu langsung histeris. Akhirnya aku dan nyokap menghampiri si Manis yang sudah tergolek tak bergerak. Tubuhnya lembek sekali. Lalu mengangkat dan menguburnya di kebun seberang jalan itu.

Sampai sekarang aku masih suka gak kuat kalo melihat kucing menyeberang dan kayak kebingungan di tengah jalan. Jadi ingat si Manis yang menjalani hidup yang pahit. Namun setiap ingat si Manis, aku jadi berpikir ada kalanya kita harus lebih kuat meskipun sedang mengalami hal-hal yang tidak kita inginkan. Seperti dia terhadap anak-anaknya.

Pelajaran :
Lakukan dan terima dengan iklas apa pun yang kita temui di perjalanan hidup. Melarikan diri atau menolak bertanggung jawab atasnya hanya akan menyisakan penyesalan.